KOMPAS.com – Gunung Semeru di Jawa Timur, meletus dan mengeluarkan awan panas, Selasa (1/12/2020) dini hari. Luncuran awan panas Gunung Semeru terjadi selama hampir tiga jam. Berkaitan dengan aktivitas gunung ini, Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Geologi (PVMBG), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) menetapkan tingkat aktivitas Gunung Semeru dalam status Waspada Level II. Penetapan status Waspada Level II itu berdasarkan hasil pemantauan visual dan insturmental, serta potensi ancaman bahaya yang ada.
Kendati hanya berstatus waspada level II, tetapi aktivitas Gunung Semeru ini sudah cukup aktif. Dengan beberapa kejadian sebagai berikut:
  • Asap kawah berwarna putih dan kelabu teramati dari puncak
  • Suhu udara sekitar tercatat sekitar 19-32 derajat Celsius
  • Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga kencang ke arah utara, timur laut, timur, selatan, barat daya dan barat juga terjadi di gunung api tersebut dan sekitarnya
  • Erupsi yang terjadi terus-menerus, menghasilkan kolom erupsi berwarna kelabu dengan tinggi maksimum 500 meter dari atas kawah atau puncak
  • Guguran batu dan kejadian awan panas guguran yang berasal dari ujung lidah lava, dengan jarak luncur maksimum 1 kilometer ke sektor tenggara lereng
  • Gempa letusan dengan rata-rata 40 kejadian per hari tercatat yang paling mendominasi kejadian di Gunung Semeru.

Lantas, dengan kondisi kejadian tersebut akankah Gunung Semeru meletus besar dalam waktu dekat?

Ahli vulkanologi, Surono mengatakan bahwa kemungkinan letusan besar itu belum bisa dipastikan berdasarkan status Waspada level II dan aktivitas di gunung api Semeru yang terjadi itu.

“Saya kira sudah cukup, letusan dini hari tadi yang dihasilkan awan panas, letusan sejauh 11 kilometer dari puncak,” kata Surono yang akrab disapa Mbah Rono kepada Kompas.com, Selasa (1/12/2020).

Berdasarkan pantauan Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Geologi (PVMBG), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), pada Selasa, 1 Desember 2020, mulai pukul 01.23 WIB, teramati awan panas guguran dari kubah puncak, dengan jarak luncur 2 hingga 11 kilometer ke arah Besok Kobokan di sektor tenggara dari puncak Gunung Semeru.

“Untung dini hari, jika siang hari, ada aktivitas di sungai, enggak kebayang saya,” kata dia. Terkait potensi semburan panas dari kawah Gunung Semeru, Mbah Rono menegaskan bahwa hal itu tidak mungkin terjadi.

“Tidak mungkin (semburan panas), pembentukan kubah lava, ya,” ujarnya. Sementara, mengenai akan berapa lama kondisi aktivitas Gunung Semeru terjasi seperti hari ini, menurut Mbah Rono, kejadian letusan sudah selesai. “Saya kira sudah selesai, nggak tahu lagi nanti,” ucap dia. Namun, Mbah Rono juga mengingatkan dengan kondisi aktivitas gunung di musim hujan seperti sekarang ini, masyarakat jelas harus waspada diri. Masyarakat sekitar wilayah Gunung Semeru, haruslah hati-hati jika akan memasuki area Besuk Kobokan karena material awan panas masih sangat panas, meskipun bagus untuk bahan bangunan. “Hati-hati lahar hujan, utamanya mereka yang beraktivitas di dalam dan di bantaran sungai yang berhulu di Semeru,” tegasnya.

Sedangkan, berikut beberapa potensi ancaman bencana Gunung Semeru yang patut diwaspadai masyarakat menurut PVMBG.
  • Lontaran batuan pijar di sekitar puncak
  • Material lontaran berukuran abu dapat tersebar lebih jauh tergantung arah dan kecepatan angin
  • Potensi ancaman awan panas guguran dan guguran batuan dari kubang atau ujung lidah lava ke sektor tenggara dan selatan dari puncak
  • Jika terjadi hujan dapat mengakibatkan lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di daerah puncak

Sumber : kompas.com